Contoh Makalah Pendidikan Agama Islam

Contoh makalah merupakan artikel khusus yang membahas tentang makalah dan contoh - contohnya. Bagi sebagian mahasiswa membuat makalah masih merasa kesulitan di karenakan masih belum terbiasanya budaya menulis ilmiah baik di tingkat SMP maupun SMA. 

Untuk itulah sengaja saya hadirkan artikel contoh makalah pendidikan agama islam ini untuk membantu para mahasiswa dalam membuat contoh makalah pendidikan yang baik dan benar. Memang, budaya menulis ilmiah seharusnya di terapkan jauh sebelum masa kuliah agar nantinya setelah lulus dari masa SMA, siswa dapat menganalisa suatu kasus, membuat pembahasan dari berbagai sumber serta menuangkannya dalam bentuk tulisan. 

Sehingga kalaupun tidak bisa melanjutkan masa pendidikannya di Universitas atau perguruan tinggi, siswa tersebut mampu menulis ilmiah dan kalaupun dapat meneruska
n jenjang pendidikannya maka akan menjadi modal penting bagi mereka selama mereka menempuh studi di perguruan tinggi dan tidak kesulitan dalam membuat contoh makalah.

Berikut ini akan saya hadirkan contoh makalah dengan tema pendidikan atau lebih khususnya lagi tentang filsafat. 


1.   PENDAHULUAN
Imam Al Ghazali, sebuah nama yang tidak asing di telinga kaum muslimin. Tokoh terkemuka dalam kancah filsafat dan tasawuf. Memiliki pengaruh dan pemikiran yang telah menyebar ke penjuru dunia Islam. Ironisnya sejarah dan perjalanan hidupnya masih terasa asing. Bahkan, mungkin kebanyakan kaum muslimin belum mengerti.
Pengaruh filsafat Imam Ghozali begitu kentalnya. Beliau menyusun buku yang berisi kritikan terhadap filsafat, seperti kitab At Tahafut al-Falasifah yang membongkar kejelekan filsafat[1]. Menurut al-Ghazali, pemikiran filsafat Yunani seperti filsafat Socrates, Plato, dan Aristoteles, bahkan juga filsafat Ibnu Sina dan al-Farabi tidak sesuai dengan yang dicarinya, bahkan kacau (tahafut). Menurut Imam Ghozali dalam filsafat ada yang bertentangan dengan ajaran agama dan mengkafirkan sebagian pemikiran mereka.Kritikan Imam al-Ghazali dipaparkan secara rinci dalam kitab Tahafut al-Falasifah (kekacauan para filosof). Berikut adalah sebagian sisi kehidupannya dalam dunia filsafat


2.   BIOGRAFI  SINGKAT  IMAM GHOZALI

Nama lengkapnya adalah Abu Hamid bin Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali[2]. Al-Ghazali lahir di Thus bagian dari kota Kurasan, Irak pada 450 H (1056 M). Diperkirakan Al-Ghozali, hidup dalam suasana kesederhanaan sufi tersebut sampai usia 15 tahun (450-465 H).

Dalam perkembangannya Imam Al-Ghazali lebih dikenal sebagai ulama thasawuf dan aqidah. Oleh sebab itu sumbangannya terhadap bidang falsafah dan ilmu pengetahuan lain tidak boleh dinafikan. Al-Ghazali merupakan seorang ahli Sufi yang bergelar "Hujjatul Islam". Al-Ghazali telah dilantik sebagai Mahaguru Universitas Baghdad pada tahun 488 H (1095 M).  Al-Ghozali mengunjungi kota kelahirannya, Thus disini pun ia tetap berkhalwat. Keadaan berlangsung selama 10 tahun. Pada periode itulah ia menulis karyanya yang terbesar ihyaUlumudin. Dalam kitab tersebut, Imam Al -Ghazali mengatakan bahwa ilmu agamalah yang wajib dipelajari secara pribadi oleh para muslimin. Sementara ilmu dunia, hanyalah fardhu kifayah. Beliau juga mengarang kitab Tahafut al-Falasifah yang menjelaskan tentang kerancuan-kerancuan dalam dunia filsafat. Imam Ghozali yang bergelar Hujjatul Islam meninggal dikota kelahirannya Thus pada hari Senin 14 Jumadil Akhir 505 H/111 M.

3.      PEMIKIRAN IMAM GHOZALI
Al-Ghozali, sebagaimana halnya para penganut aliran al-Asy’ariyah menyelaraskan akal dengan naql. Ia berpendapat bahwa  akal harus digunakan sebagai penopang, karena ia bisa mengetahui dirinya sendiri dan bisa mempersepsikan benda lain, yang jika lepas dari sumbat angan-angan dan khayalan maka ia bisa mempersepsi benda-benda secara hakiki. Namun al-Ghozali menghentikan akal pada batas-batas tertentu, dan hanya naql-lah yang bisa melewati batas-batas ini. Mengenai problematika sifat-sifat (Allah), al-Ghozali memegang pendapat yang dianut oleh al-Asy’ari, sehingga ia tidak menerima pendapat yang dikemukakan oleh aliran Hasywiah[3]maupun Mu’tazilah[4], karena kedua aliran ini ekstrim. Yang paling baik adalah tengah-tengah[5].

Menurut al-Ghozali, Allah adalah satu-satunya sebab bagi alam. Alam Ia ciptakan dengan kehendak dan kekuasaan-Nya, karena kehendak Allah adalah sebab bagi segala yang ada (al-Maujudat). Sedangkan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Sebab-sebab alami hanyalah korelasi waktu antara benda-benda. Nampak jelas bahwa al-Ghozali mengagumi pemecahan masalah melihat Allah yang dikemukakan oleh al-Asy’ari, pemecahan ini ia tingkatkan dengan cara menafsirkan melihat Allah itu sebagai suatu corak pengetahuan.[6]

4.      KRITIK AL-GHOZALI TERHADAP PARA FILOSOF
Kritik Al-Ghazali atas metafisika sebenarnya meliputi kritiknya terhadap Islamic Aristotelianism (pemikirannya filosof Muslim yang dipengaruhi oleh Aristoteles yang diformulasikan dengan baik oleh Al-Farabi dan Ibn Sina) yang berkembang menjadi teologi rasional berdasarkan metafisika Aristoteles[7]
.
Karena teologi ini bersifat rasional, salah satu asumsi dasarnya adalah bahwa rasio manusia mampu menyelesaikan sebagian besar dari persoalan-persoalan teologi. Asumsi inilah sesungguhnya yang ingin ditolak oleh Al-Ghazali; dan penolakan ini, sebagaimana terjadi, melibatkan pembuktian kesalahan asumsi-asumsi tersebut secara rasional. Jika ini dapat diperlihatkan, kita tidak lagi dapat mempercayai akal pikiran manusia dalam usaha ini; dan sebaliknya kita mesti menolak metafisika rasional dan menggunakan bantuan Wahyu untuk pengetahuan semacam itu.[8]

Metafisika Rasional Emanatif

Al-Farabi dan Ibnu Sina, selaku Muslim, tidak menolak bahwa Tuhan adalah pencipta abadi alam dan semesta, tetapi mereka percaya bahwa aktivitas Tuhan hanya mencakup memunculkan dalam keadaan aktualitas kemungkinan-kemungkinan yang sebetulnya inheren dalam materi pertama yang dinyatakan sebagai abadi bersama Tuhan.  Inisesuai dengan pemahaman Aristotelian tentang perubahan, bukan sebagai jalan pintas dari tidak ada menjadi ada , akan tetapi, sebagai proses melalui apa yang disebut “wujud potensial” berkembangmelalui “bentuk” menuju “wujud aktual”.  Oleh karena itu, Tuhan selaku pencipta abadi konstan mengombinasikan materi dengan bentuk-bentuk baru; Dia tidak menciptakan alam semesta muncul dari ketiadaan belaka pada saat tertentu pada masa lampau. Sebagai akibat logisnya, mereka percaya pada keabadian waktu.[9]

Sebaliknya Al-Ghazali, sesuai dengan ajaran nyata dari Al-Qur’an, secara ketat berpegang pada posisi bahwa dunia diciptakan oleh Tuhan muncul dari ketiadaan mutlak.  Pada saat tertentu pada masa lampau dengan interval terbatas dari masa sekarang. Tuhan tidak hanya menciptakan forma, tetapi juga materi dan waktu bersama keduanya, yang memiliki permulaan tertentu dan oleh karenanya bersifat terbatas.[10]

Keabadian Dunia

Al-Ghazali menolak menggunakan asumsi-asumsi yang dinyatakan oleh falasifah dan memperlihatkan bahwa mempercayai asal-usul dunia dari kehendak Tuhan yang abadi dalam waktu tertentu sesuai dengan pilihan-Nya sama sekali tidak melanggar prinsip-prinsip fundamental logika.  Sedangkan asumsi falasifah bahwa efek memiliki sebab dan bahwa suatu sebab merupakan kekuatan di luar efek yang disebabkan, tidak memiliki pemaksaan logis tentang hal itu. Adalah sah untuk percaya bahwa kehendak Tuhan memperlakukan suatu sebab atau setidak-tidaknya bahwa sebab tersebut tidak terletak di luar, tetapi di dalam kehendak-Nya. Adalah mungkin untuk berpikir bahwa kehendak Tuhan bersifat abadi dan objek dari kehendak tersebut telah terjadi pada saat tertentu dalam waktu. Di sini harus dibuat pembeda antara keabadian objek dari kehendak Tuhan. Oleh karenanya secara logis bukan tidak sah untuk menegaskan keyakinan ortodoks bahwa Tuhan secara azali berkehendak bahwa dunia harus terwujud secara demikian dan pada saat tertentu dalam waktu.[11]

Namun, titik pijak Al-Ghazali sesungguhnya adalah bahwa Tuhan pantas saja menetapkan secara bebas suatu saat tertentu lebih utama dari saat yang lain  untuk mewujudkan dunia.  Kehendak Tuhan sepenuh nyata dibatasi. Kehendak-Nya tidak bergantung kepada pembeda-pembedaan di dunia luar, karena kehendak itu sendirilah sumber dari segala pembedaan tersebut. Tuhan memilih saat tertentu  bagi penciptaan alam semesta.Tidak ada cara untuk menjelaskan pilihan Tuhan dalam hal apapun.
Teori Emanasi

Kritik Al-Ghazali terhadap argument emanasionistik mengandung penjelasan bahwa argument tersebut, di satu sisi gagal memberi gambaran tentang keanekaragaman dan keteraturan di alam semesta, disisi lain tidak melakukan  yang terbaik dalam membela keesaan Tuhan yang mutlak.  Jika formulasi yang diamati dengan lancar sering diulang-ulang bahwa “dari satu hanya satu yang muncul ” harus diamati secara logika, seluruh wujud dunia akan terdiri dari unit-unit.  Setiap unit akan menjadi efek dari unit lain di atasnya dan akan menjadi sebab bagi unit lain di bawahnya menurut model linear.  Namun, dalam kenyataan tidak demikian. Menurut falasifah, setiap objek setidaknya tersusun dari forma dan materi. Bagaimana benda yang tersusun (berkomposisi) kemudian terwujud ? Apakah dia hanya memiliki satu sebab ? Jika jawabannya afirmatif, maka pernyataan bahwa “dari satu hanya satu yang muncul” itu batal dan tidak berarti lagi. Sebaliknya, jika benda berkomposisi memiliki sebab gabungan, maka persoalan yang sama akan terulang kembali begitu seterusnya hingga pada titik yang majemuk secara niscaya bertemu dengan sederhana.  Kontak antara efek majemuk dan sebab tunggal di mana saja dia terjadi akan membuktikan kesalahan prinsip tersebut.  Jadi, Seluruh maujud di alam semesta ditandai dengan ketersusunan dan hanya Prinsip pertama, yakni Tuhan sendiri, yang dapat dikatakan memiliki kesederhanaan dan kesatuan sejati. Hanya Dia semata yang memiliki identitas sempurna, baik esensi maupun eksistensi. Dapat disimpulkan bahwa apakah prinsip ”hanya satu dari yang satu” yang gagal menjelaskan ketersusunan dan keanekaragaman, seperti yang tampak di alam semesta, ataukah memang Tuhan tidak memiliki keesaan murni. Seluruh premis falasifah yang berkaitan dengan teori mereka tentang emanasi dikritik oleh Al-Ghazali tanpa pengecualian[12].

Penggunaan “rasio” dalam wilayah metafisika tidak memadai dan keliru. Kita dengan mudah dapat memahami dari argument Al-Ghazali bahwa rasio semata tidak mampu menyelesaikan persoalan-persoalan filsafat yang perennial tersebut. Karena pertimbangan awal ini, akhirnya Al-Ghazali hanya bersandar kepada “Wahyu” untuk memperoleh pengetahuan metafisika.

Sisi paling penting dari konsepsi Al-Ghazali dalam menolak metafisika rasional adalah penekanannya pada ketidakmampuan rasio manusia untuk menangkap secara akurat penyelesaian secara memuaskan persoalan-persoalan metafisika dan teologi. Penekanan lain diberikan kepada realitas Tuhan yang “berkehendak”, yaitu Tuhan sebagai pelaku yang “ berkehendak ”. Al-Ghazali sangat jarang berbicara tentang kemungkinan subjek manusia ”berkehendak” untuk membangun batang tubuh pengetahuan dalam upaya memahami fenomena alam, terutama etika mistiknya.[13]
   
KESIMPULAN
Dari makalah ini sedikit penulis menyampaikan beberapa dalam makalah ini, bahwa menurut al-Ghozali filsafat hanya semata-mata untuk menguatkan dasar-dasar ilmu kalam. Al-Ghozali juga memandang bahwasannya cara pengambilan yang demikian sangat dangkal. Sebab, dalam berfilsafat bukanlah keyakinan kita bertambah teguh melainkan tenggelam dalam keraguan dan kegelapan. Segala kebenaran, keadilan, kecintaan, dan keyakinan kita memang menjadi pintar (rasio), pandai mengumpulkan fikiran kita sendiri. Tetapi, jiwa menjadi kosong. Sebab, akal saja tidaklah dapat mencari nilai.

  


DAFTAR PUSTAKA
http://www.albarokah.or.id. Diakses tanggal 28 oktober 2010.
Abullah, Amin, “Antara Al-Ghazali dan Kant: Filsafat Etika Islam”, (Bandung: Mizan, 2002).

Asmin Yudian Wahyudi, “Aliran dan Teori Filsafat Islam”, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004).








[1] http://www.albarokah.or.id. Diakses tanggal 28 oktober 2010.
[2] Ada yang mengatakan nama Al-Ghozzali ini berasal dari kata Ghazzal, yang artinya tukang pintal benang karena pekerjaan ayahnya memintal benang wol. Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa nama al ghazali diambil dari ghazalah, nama Kampung kelahiran al-Ghazali. Yang terakhir ini inilah yang banyak dipakai.
[3] Aliran Hasywiah berpegang pada arti dari suatu teks(ayat-ayat al-Qur’an dan as-Sunnah) agar mereka tidak mengosongkan Allah dari sifat-sifat, sehingga mereka antropomorfis. 
[4] Mu’tazilah berlebih-lebihan dalam menyucikan Allah, sehingga mereka harus menafikan sifat-sifat dari Allah.
[5] Ibrahim Madkour, Aliran dan Teori Filsafat Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), hlm, 74.
[6] Ibid, hlm, 75.
[7] Amin Abdullah, Antara Al-Ghazali dan Kant: Filsafat Etika Islam,(Bandung: Mizan, 2002) hlm. 58.
[8]Antara Al-Ghazali dan Kant: Filsafat Etika Islam, hlm. 58.
[9]Ibid, hlm. 62.
[10]Ibid, hlm. 62.
[11]Ibid, hlm. 63                    
[12] Ibid, hlm, 64.
[13]Ibid, hlm. 65.

Demikian artikel Contoh Makalah Pendidikan Agama Islam yang semoga dapat bermanfaat untuk anda, untukcontoh makalah dan cara pembuatan selengkapnya bisa anda baca dengan cara klik disini

Ternyata Islam Sudah Ada di Amerika Jauh Sebelum Kedatangan Colombus





السلام عليكم . بِسْــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم.لا إله إلاَّ الله.محمد رسو ل الله
الحمد لله رب العا لمين. الصلاة و السلام على رسو ل الله.اما بعد

Jika Anda mengunjungi Washington DC, datanglah ke Perpustakaan Kongres (Library of Congress). Lantas, mintalah arsip perjanjian pemerintah Amerika Serikat dengan suku Cherokee, salah satu suku Indian, tahun 1787. Di sana akan ditemukan tanda tangan Kepala Suku Cherokee saat itu, bernama AbdeKhak dan Muhammad Ibnu Abdullah.

Isi perjanjian itu antara lain adalah hak suku Cherokee untuk melangsungkan keberadaannya dalam perdagangan, perkapalan, dan bentuk pemerintahan suku cherokee yang saat itu berdasarkan hukum Islam. Lebih lanjut, akan ditemukan kebiasaan berpakaian suku Cherokee yang menutup aurat sedangkan kaum laki-lakinya memakai turban (surban) dan terusan hingga sebatas lutut.

Cara berpakaian ini dapat ditemukan dalam foto atau lukisan suku cherokee yang diambil gambarnya sebelum tahun 1832. Kepala suku terakhir Cherokee sebelum akhirnya benar-benar punah dari daratan Amerika adalah seorang Muslim bernama Ramadan Ibnu Wati.

Berbicara tentang suku Cherokee, tidak bisa lepas dari Sequoyah. Ia adalah orang asli suku cherokee yang berpendidikan dan menghidupkan kembali Syllabary suku mereka pada 1821. Syllabary adalah semacam aksara. Jika kita sekarang mengenal abjad A sampai Z, maka suku Cherokee memiliki aksara sendiri.

Yang membuatnya sangat luar biasa adalah aksara yang dihidupkan kembali oleh Sequoyah ini mirip sekali dengan aksara Arab. Bahkan, beberapa tulisan masyarakat cherokee abad ke-7 yang ditemukan terpahat pada bebatuan di Nevada sangat mirip dengan kata ”Muhammad” dalam bahasa Arab.

Nama-nama suku Indian dan kepala sukunya yang berasal dari bahasa Arab tidak hanya ditemukan pada suku Cherokee (Shar-kee), tapi juga Anasazi, Apache, Arawak, Arikana, Chavin Cree, Makkah, Hohokam, Hupa, Hopi, Mahigan, Mohawk, Nazca, Zulu, dan Zuni. Bahkan, beberapa kepala suku Indian juga mengenakan tutp kepala khas orang Islam. Mereka adalah Kepala Suku Chippewa, Creek, Iowa, Kansas, Miami, Potawatomi, Sauk, Fox, Seminole, Shawnee, Sioux, Winnebago, dan Yuchi. Hal ini ditunjukkan pada foto-foto tahun 1835 dan 1870.

Secara umum, suku-suku Indian di Amerika juga percaya adanya Tuhan yang menguasai alam semesta. Tuhan itu tidak teraba oleh panca indera. Mereka juga meyakini, tugas utama manusia yang diciptakan Tuhan adalah untuk memuja dan menyembah-Nya. Seperti penuturan seorang Kepala Suku Ohiyesa : ”In the life of the Indian, there was only inevitable duty-the duty of prayer-the daily recognition of the Unseen and the Eternal”. Bukankah Al-Qur’an juga memberitakan bahwa tujuan penciptaan manusia dan jin semata-mata untuk beribadah pada Allah (*)

Subhanallah….

Bagaimana bisa Kepala suku Indian Cheeroke itu muslim?

Sejarahnya panjang,

Semangat orang-orang Islam dan Cina saat itu untuk mengenal lebih jauh planet (tentunya saat itu nama planet belum terdengar) tempat tinggalnya selain untuk melebarkan pengaruh, mencari jalur perdagangan baru dan tentu saja memperluas dakwah Islam mendorong beberapa pemberani di antara mereka untuk melintasi area yang masih dianggap gelap dalam peta-peta mereka saat itu.

Beberapa nama tetap begitu kesohor sampai saat ini bahkan hampir semua orang pernah mendengarnya sebut saja Tjeng Ho dan Ibnu Batutta, namun beberapa lagi hampir-hampir tidak terdengar dan hanya tercatat pada buku-buku akademis.

Para ahli geografi dan intelektual dari kalangan muslim yang mencatat perjalanan ke benua Amerika itu adalah Abul-Hassan Ali Ibn Al Hussain Al Masudi (meninggal tahun 957), Al Idrisi (meninggal tahun 1166), Chihab Addin Abul Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 – 1384) dan Ibn Battuta (meninggal tahun 1369).

Menurut catatan ahli sejarah dan ahli geografi muslim Al Masudi (871 – 957), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad seorang navigator muslim dari Cordoba di Andalusia, telah sampai ke benua Amerika pada tahun 889 Masehi. Dalam bukunya, ‘Muruj Adh-dhahab wa Maadin al-Jawhar’ (The Meadows of Gold and Quarries of Jewels), Al Masudi melaporkan bahwa semasa pemerintahan Khalifah Spanyol Abdullah Ibn Muhammad (888 – 912), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad berlayar dari Delba (Palos) pada tahun 889, menyeberangi Lautan Atlantik, hingga mencapai wilayah yang belum dikenal yang disebutnya Ard Majhoola, dan kemudian kembali dengan membawa berbagai harta yang menakjubkan.

Sesudah itu banyak pelayaran yang dilakukan mengunjungi daratan di seberang Lautan Atlantik, yang gelap dan berkabut itu. Al Masudi juga menulis buku ‘Akhbar Az Zaman’ yang memuat bahan-bahan sejarah dari pengembaraan para pedagang ke Afrika dan Asia.

Dr. Youssef Mroueh juga menulis bahwa selama pemerintahan Khalifah Abdul Rahman III (tahun 929-961) dari dinasti Umayah, tercatat adanya orang-orang Islam dari Afrika yang berlayar juga dari pelabuhan Delba (Palos) di Spanyol ke barat menuju ke lautan lepas yang gelap dan berkabut, Lautan Atlantik. Mereka berhasil kembali dengan membawa barang-barang bernilai yang diperolehnya dari tanah yang asing.

Beliau juga menuliskan menurut catatan ahli sejarah Abu Bakr Ibn Umar Al-Gutiyya bahwa pada masa pemerintahan Khalifah Spanyol, Hisham II (976-1009) seorang navigator dari Granada bernama Ibn Farrukh tercatat meninggalkan pelabuhan Kadesh pada bulan Februari tahun 999 melintasi Lautan Atlantik dan mendarat di Gando (Kepulaun Canary).

Ibn Farrukh berkunjung kepada Raja Guanariga dan kemudian melanjutkan ke barat hingga melihat dua pulau dan menamakannya Capraria dan Pluitana. Ibn Farrukh kembali ke Spanyol pada bulan Mei 999.

Perlayaran melintasi Lautan Atlantik dari Maroko dicatat juga oleh penjelajah laut Shaikh Zayn-eddin Ali bin Fadhel Al-Mazandarani. Kapalnya berlepas dari Tarfay di Maroko pada zaman Sultan Abu-Yacoub Sidi Youssef (1286 – 1307) raja keenam dalam dinasti Marinid. Kapalnya mendarat di pulau Green di Laut Karibia pada tahun 1291. Menurut Dr. Morueh, catatan perjalanan ini banyak dijadikan referensi oleh ilmuwan Islam.

Sultan-sultan dari kerajaan Mali di Afrika barat yang beribukota di Timbuktu, ternyata juga melakukan perjalanan sendiri hingga ke benua Amerika. Sejarawan Chihab Addin Abul-Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 – 1384) memerinci eksplorasi geografi ini dengan seksama. Timbuktu yang kini dilupakan orang, dahulunya merupakan pusat peradaban, perpustakaan dan keilmuan yang maju di Afrika. Ekpedisi perjalanan darat dan laut banyak dilakukan orang menuju Timbuktu atau berawal dari Timbuktu.

Sultan yang tercatat melanglang buana hingga ke benua baru saat itu adalah Sultan Abu Bakari I (1285 – 1312), saudara dari Sultan Mansa Kankan Musa (1312 – 1337), yang telah melakukan dua kali ekspedisi melintas Lautan Atlantik hingga ke Amerika dan bahkan menyusuri sungai Mississippi.

Sultan Abu Bakari I melakukan eksplorasi di Amerika tengah dan utara dengan menyusuri sungai Mississippi antara tahun 1309-1312. Para eksplorer ini berbahasa Arab. Dua abad kemudian, penemuan benua Amerika diabadikan dalam peta berwarna Piri Re’isi yang dibuat tahun 1513, dan dipersembahkan kepada raja Ottoman Sultan Selim I tahun 1517. Peta ini menunjukkan belahan bumi bagian barat, Amerika selatan dan bahkan benua Antartika, dengan penggambaran pesisiran Brasil secara cukup akurat.

Sequoyah, also known as George Gist Bukti lainnya adalah, Columbus sendiri mengetahui bahwa orang-orang Carib (Karibia) adalah pengikut Nabi Muhammad. Dia faham bahwa orang-orang Islam telah berada di sana terutama orang-orang dari Pantai Barat Afrika. Mereka mendiami Karibia, Amerika Utara dan Selatan. Namun tidak seperti Columbus yang ingin menguasai dan memperbudak rakyat Amerika. Orang-Orang Islam datang untuk berdagang dan bahkan beberapa menikahi orang-orang pribumi.

Lebih lanjut Columbus mengakui pada 21 Oktober 1492 dalam pelayarannya antara Gibara dan Pantai Kuba melihat sebuah masjid (berdiri di atas bukit dengan indahnya menurut sumber tulisan lain). Sampai saat ini sisa-sisa reruntuhan masjid telah ditemukan di Kuba, Mexico, Texas dan Nevada.

Dan tahukah anda? 2 orang nahkoda kapal yang dipimpin oleh Columbus kapten kapal Pinta dan Nina adalah orang-orang muslim yaitu dua bersaudara Martin Alonso Pinzon dan Vicente Yanex Pinzon yang masih keluarga dari Sultan Maroko Abuzayan Muhammad III (1362). [THACHER,JOHN BOYD: Christopher Columbus, New York 1950]

Dan mengapa hanya Columbus saja yang sampai saat ini dikenal sebagai penemu benua amerika? Karena saat terjadi pengusiran kaum yahudi dari spanyol sebanyak 300.000 orang yahudi oleh raja Ferdinand yang Kristen, kemudian orang-orang yahudi menggalang dana untuk pelayaran Columbus dan berita ‘penemuan benua Amerika’ dikirim pertama kali oleh Christopher Columbus kepada kawan-kawannya orang Yahudi di Spanyol.

Pelayaran Columbus ini nampaknya haus publikasi dan diperlukan untuk menciptakan legenda sesuai dengan ‘pesan sponsor’ Yahudi sang penyandang dana. Kisah selanjutnya kita tahu bahwa media massa dan publikasi dikuasai oleh orang-orang Yahudi yang bahkan dibenci oleh orang-orang seperti Henry Ford si raja mobil Amerika itu.

Maka tampak ada ketidak-jujuran dalam menuliskan fakta sejarah tentang penemuan benua Amerika. Penyelewengan sejarah oleh orang-orang Yahudi yang terjadi sejak pertama kali mereka bersama-sama orang Eropa menjejakkan kaki ke benua Amerika.

Dan tahukah anda? sebenarnya laksam ana Zheng He atau yang di Indonesia lebih dikenal dengan nama laksamana Cheng Ho adalah penemu benua amerika pertama, sekitar 70 tahun sebelum Columbus.

Sekitar 70 tahun sebelum Columbus menancapkan benderanya di daratan Amerika, Laksamana Zheng He sudah lebih dulu datang ke sana. Para peserta seminar yang diselenggarakan oleh Royal Geographical Society di London beberapa waktu lalu dibuat terperangah. Adalah seorang ahli kapal selam dan sejarawan bernama Gavin Menzies dengan paparannya dan lantas mendapat perhatian besar.

Tampil penuh percaya diri, Menzies menjelaskan teorinya tentang pelayaran terkenal dari pelaut mahsyur asal Cina, Laksamana Zheng He (kita mengenalnya dengan Ceng Ho-red). Bersama bukti-bukti yang ditemukan dari catatan sejarah, dia lantas berkesimpulan bahwa pelaut serta navigator ulung dari masa dinasti Ming itu adalah penemu awal benua Amerika, dan bukannya Columbus.

Bahkan menurutnya, Zheng He ‘mengalahkan’ Columbus dengan rentang waktu sekitar 70 tahun. Apa yang dikemukakan Menzies tentu membuat kehebohan lantaran masyarakat dunia selama ini mengetahui bahwa Columbus-lah si penemu benua Amerika pada sekitar abad ke-15. Pernyataan Menzies ini dikuatkan dengan sejumlah bukti sejarah.

Adalah sebuah peta buatan masa sebelum Columbus memulai ekspedisinya lengkap dengan gambar benua Amerika serta sebuah peta astronomi milik Zheng He yang dosodorkannya sebagai barang bukti itu. Menzies menjadi sangat yakin setelah meneliti akurasi benda-benda bersejarah itu.

Cherokee syllabary”Laksana inilah yang semestinya dianugerahi gelar sebagai penemu pertama benua Amerika,” ujarnya. Menzies melakukan kajian selama lebih dari 14 tahun. Ini termasuk penelitian peta-peta kuno, bukti artefak dan juga pengembangan dari teknologi astronomi modern seperti melalui program software Starry Night.

Dari bukti-bukti kunci yang bisa mengubah alur sejarah ini, Menzies mengatakan bahwa sebagian besar peta maupun tulisan navigasi Cina kuno bersumber pada masa pelayaran Laksamana Zheng He. Penjelajahannya hingga mencapai benua Amerika mengambil waktu antara tahun 1421 dan 1423. Sebelumnya armada kapal Zheng He berlayar menyusuri jalur selatan melewati Afrika dan sampai ke Amerika Selatan.

Uraian astronomi pelayaran Zheng He kira-kira menyebut, pada larut malam saat terlihat bintang selatan sekitar tanggal 18 Maret 1421, lokasi berada di ujung selatan Amerika Selatan. Hal tersebut kemudian direkonstruksi ulang menggunakan software Starry Night dengan membandingkan peta pelayaran Zheng He.

“Saya memprogram Starry Night hingga masa di tahun 1421 serta bagian dunia yang diperkirakan pernah dilayari ekspedisi tersebut,” ungkap Menzies yang juga ahli navigasi dan mantan komandan kapal selam angkatan laut Inggris ini. Dari sini, dia akhirnya menemukan dua lokasi berbeda dari pelayaran ini berkat catatan astronomi (bintang) ekspedisi Zheng He.

Lantas terjadi pergerakan pada bintang-bintang ini, sesuai perputaran serta orientasi bumi di angkasa. Akibat perputaran bumi yang kurang sempurna membuat sumbu bumi seolah mengukir lingkaran di angkasa setiap 26 ribu tahun. Fenomena ini, yang disebut presisi, berarti tiap titik kutub membidik bintang berbeda selama waktu berjalan. Menzies menggunakan software untuk merekonstruksi posisi bintang-bintang seperti pada masa tahun 1421.

“Kita sudah memiliki peta bintang Cina kuno namun masih membutuhkan penanggalan petanya,” kata Menzies. Saat sedang bingung memikirkan masalah ini, tiba-tiba ditemukanlah pemecahannya. “Dengan kemujuran luar biasa, salah satu dari tujuan yang mereka lalui, yakni antara Sumatra dan Dondra Head, Srilanka, mengarah ke barat.”

Bagian dari pelayaran tersebut rupanya sangat dekat dengan garis katulistiwa di Samudera Hindia. Adapun Polaris, sang bintang utara, dan bintang selatan Canopus, yang dekat dengan lintang kutub selatan, tercantum dalam peta. “Dari situ, kita berhasil menentukan arah dan letak Polaris. Sehingga selanjutnya kita bisa memastikan masa dari peta itu yakni tahun 1421, plus dan minus 30 tahun.”

Sequoyah Atas temuan tersebut, Phillip Sadler, pakar navigasi dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics, mengatakan perkiraan dengan menggunakan peta kuno berdasarkan posisi bintang amatlah dimungkinkan. Dia juga sepakat bahwa estimasi waktu 30 tahun, seperti dalam pandangan Menzies, juga masuk akal.

Selama ini, masyarakat dunia mengetahui kiprah Zheng He sebagai penjelajah ulung. Dia terlahir di Kunyang, kota yang berada di sebelah barat daya Propinsi Yunan, pada tahun 1371. Keluarganya yang bernama Ma, adalah bagian dari warga minoritas Semur. Mereka berasal dari kawasan Asia Tengah serta menganut agama Islam.

Ayah dan kakek Zheng He diketahui pernah mengadakan perjalanan haji ke Tanah Suci Makkah. Sementara Zheng He sendiri tumbuh besar dengan banyak mengadakan perjalanan ke sejumlah wilayah. Ia adalah Muslim yang taat.

Yunan adalah salah satu wilayah terakhir pertahanan bangsa Mongol, yang sudah ada jauh sebelum masa dinasti Ming. Pada saat pasukan Ming menguasai Yunan tahun 1382, Zheng He turut ditawan dan dibawa ke Nanjing. Ketika itu dia masih berusia 11 tahun.

Zheng He pun dijadikan sebagai pelayan putra mahkota yang nantinya menjadi kaisar bernama Yong Le. Nah kaisar inilah yang memberi nama Zheng He hingga akhirnya dia menjadi salah satu panglima laut paling termashyur di dunia.

sumber: http://blognyajose.blogspot.com/2010/08/ternyata-islam-sudah-ada-di-amerika.html